Pada prinsipnya pemuatan atau pemadatan itu meliputi berbagai faktor
yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Melindungi kapal ( to protect the ship ) b. Melindungi Muatan ( to
protect the cargo ) c. Keselamatan buruh dan ABK ( Safety of crew and
longshore men ) d. Melaksanakan pemuatan/pemadatan secara sistimatis (
to obtain rapid systematic loading and discharging ) e. Memenuhi ruang
muatan sepenuh mungkin sesuai dengan daya tampungnya ( to obtain the
maximum use of available cubic of the ship ).
Melindungi kapal (to protect the ship )
Azas ini sangat erat dengan kelayakan kapal (laik laut ) artinya bahwa
kapal dalam pembagian muatan di kapal haruslah baik ditinjau dari
pembagian secara Vertical ( menegak dari bawah keatas ), Longitudinal
(membujur dari depan ke belakang), dan secara Transversal (melintang
dari kiri ke kanan). Pembagian muatan secara vertical
Pembagian muatan secara vertical ini mempunyai pengaruh terhadap
stabilitas kapal. Apabila muatan terlampau banyak berat dikonsentrasikan
diatas atau geladak atas saja maka kapal akan cenderung mempunyai
stabilitas kecil atau disebut kapal dalam kondisi langsar.
Sebaliknya apabila terlalu banyak berat muatan dikonsentrasikan dalam
palka bawah ( lower hold ) maka stabilitas kapal akan terlalu besar atau
disebut kondisi kaku. Kedua kondisi tersebut kurang baik bila kapal
dalam pelayaran.
Ciri-ciri kapal dalam kondisi langsar ( tender ) adalah sebagai berikut :
- Bagian atas terlampau berat - Kapal akan mengoleng dan kembali secara
lambat sekali - Kapal lebih Comfortable - Apabila ombak cukup besar
tidak banyak air masuk Efek sampingan dari kondisi kapal yang demikian
ini adalah : - Kurang menyenangkan orang yang berada di dalamnya -
Sering pula menyebabkan muatan bergeser / berpindah dari tempatnya
Ciri-ciri kapal dalam kondisi kaku ( stiff ) adalah sebagai berikut : -
Berat bagian bawah - Mengoleng dan kembali secara cepat sehingga
tersentak-sentak - Kapal tidak Comfortable - Apabila ombak terlalu /
cukup besar banyak air laut yang masuk keatas deck
Efek sampingan dari kondisi kapal yang demikian ini adalah : - Dapat
menimbulkan tekanan-tekanan berat pada sambungan- sambungan konstruksi
kapal - Hempasan keras pada pintu / jendela dapat memecahkan kaca -
Bergesernya atau terlepasnya ikatan-ikatan antena, standard kompas atau
alat-alat lain - Kerusakan-kerusakan lainnya yang mungkin tidak
diketahui tanpa adanya penelitian seksama ( di dock ). Pembagian muatan
secara longitudinal ( membujur )
Pembagian muatan secara Longitudinal ( membujur ) ini mempunyai pengaruh
atas Trim kapal dan kondisi Hogging ataupun Sagging. Yang dimasudkan
dengan Trim itu adalah perbedaan antara sarat depan ( fore draft ) dan
sarat belakang ( after draft ).
Apabila sarat depan lebih besar disebut Trim depan/Nonggak ( trim by the
head ) sebaliknya bila sarat belakang yang lebih besar disebut Trim
belakang / Nungging ( trim by the stern ), dan bila Trim sama dengan nol
disebut even keel.
Disamping itu besarnya trim juga sangat mempengaruhi kecepatan kapal.
Oleh karenanya memperhitungkan Trim ini harus cermat sebelum kapal
berangkat berlayar sehingga kapal dapat dimuati sesuai dengan trim yang
dikehendaki. Jika dilihat dari kecepatan kapal maka trim belakang lebih
baik dari pada trim depan, dengan alasan :
- Pada trim belakang kecepatan kapal lebih baik dan mudah mengolah gerak
sebab kapal lebih luwes mengikuti gerakan ombak, - Pada trim depan
kecil tidak ada pengaruhnya, tetapi apabila terlalu besar maka kecepatan
kapal akan berkurang dan jika muatan penuh berlayar dalam cuaca buruk
akan banyak kemasukan air disebabkan adanya hempasan ombak ( Green seas
).
Oleh karena pengaruh berat muatan dalam pemuatan / pemadatan secara
longitudinal maka akan menyebabkan kondisi kapal yang disebut Hogging
dan Sagging (lihat gambar 28).
Kondisi Hogging terjadi apabila total kosentrasi berat muatan terpusat
pada ujung-ujung kapal (haluan dan buritan). Kondisi Sagging adalah
kebalikannya yaitu apabila kosentrasi berat muatan terpusat pada bagian
tengah kapal
Kondisi akibat pemuat membujur.
Kedua kondisi tersebut tidak baik dan bisa berakibat buruk terhadap
sambungan-sambungan konstruksi kapal. Perlu diketahui bahwa keadaan laut
serta ombak akan lebih mempercepat proses kerusakan tersebut. Disamping
itu kondisi kapal Hogging dan Sagging mempengaruhi kecepatan dan olah
gerak kapal ( sukar membelok, setelah membelok sulit dikembalikan ).
Pembagian muatan secara Transversal ( Melintang ) Pembagian muatan
secara transversal ( melintang ) ini akan mempengaruhi kapal dalam
rollingnya dan harus diperhatikan adalah pengaturan muatan disisi kiri
dan kanan dari center line.
Melindungi Muatan ( to protect the cargo ) Barang-barang muatan yang
diterima di kapal dan dibawa berlayar menuju tempat tujuan muatan harus
dalam keadaan baik seperti saat muatan diterima dikapal baik secara
kwalitas maupun secara kwantitas. Oleh karena itu harus diambil tindakan
untuk mencegah kerusakan muatan tersebut, antara lain : 1. Ruang kapal
(palka) harus dipersiapkan menerima muatan 2. Pemasangan penerangan atau
dunnage 3. Pemisahan muatan 4. Pengikatan muatan 5. Ventilasi /
peranginan muatan Mempersiapkan Ruang Palka Sebelum dimulai menerima
muatan maka ruang kapal/palka haruslah bersih, kering dan dalam keadaan
baik. Tindakan yang dilakukan dalam mempersiapkam ruang palka itu antara
lain :
1. Pembersihan palka dengan sapu Biasanya ruang palka sudah cukup
apabila disapu bersih, ruang yang berdebu waktu menyapu pakailah serbuk
gergaji / pasir agar lantai palka benar-benar bersih. Waktu pembersihan
sisihkan dan kumpulkan papan atau kayu pemadat/pemuatan yang masih dapat
digunakan.
2. Pencucian Ruang palka Pencucian kadang-kadang diperlukan, misalnya
setelah membongkar muatan nampak bahwa palka kotor apalagi jika muatan
yang akan dimuat lagi adalah muatan yang bersih. Jadi pencucian ruang
muat ini bila dianggap perlu saja. Biasanya selama pencucian pompa lensa
dijalankan agar air pencucian dapat dibuang keluar kapal dan setelah
pencucian palka diberi peranginan.
3. Pembasmian tikus dan penghapusan hama Pembamian tikus atau hama perlu
dilakukan, kapal terpaksa dikosongkan dulu dan orang-orang yang ada
didalam kapal segera meninggalkan kapal, bila penghapusan hama ini untuk
seluruh ruang kapal. Bermacam-macam gas berbisa yang dipakai untuk
keperluan tersebut misalnya SO2 (Zwaneldyoxyda) dan Hidrogen Cyanida
(HCN).
4. Pemeriksaan pipa-pipa dan salurannya Sebelum diadakan pemuatan
haruslah diperiksa apakah saluran pipa- pipa dan saringannya dalam
keadaan baik dan bersih, tidak tertutup kotoran, sehingga air keringat
muatan yang ditampung dalam got-got dapat dipompa keluar kapal. Air got
harus senantiasa di ukur kemungkinan air akan meluap dan dapat membasahi
muatan di palka dan diisap keluar kapal jika telah penuh airnya.
5. Pemeriksaan saluran aliran listrik Pemeriksaan saluran-saluran aliran
listrik sangat penting dan harus dilakukan agar jangan terjadi
kebakaran dalam palka, karena bunga api yang jatuh pada muatan ataupun
membakar gas-gas dalam ruangan
6. Penerapan / Penyisipan ( Dunnage ) Untuk mencapai maksud melindungi
muatan maka harus digunakan pula penerapan yaitu penggunaan kayu untuk
melindungi muatan- muatan dalam palka.
Secara umum penerapan diartikan sebagai : Penyisipan, pamasangan ataupun
penggunaan benda-benda yang murah (tikar, sasak karung goni, terpal,
kertas-kertas plastik, papan-papan, kayu- kayu balok dan lain-lain)
antara muatan dengan bagian-bagian kapal, ataupun antara muatan-muatan
itu sendiri.
Maksud dari penggunaan penerapan-penerapan itu ialah untuk menjaga
muatan dari : - Air (akibat keringat atau kebocoran) - Kondensasi -
Rusak karena tekanan - Rusak karena karat - Rusak karena panas yang
mendadak - Terjadinya pencampuran - Pencurian Peranginan ( Ventilasi )
Peranginan atau bahasa populernya adalah ventilasi merupakan bagian
penting dalam Stowage. Kurangnya atau kelalaian dalam memberikan
ventilasi dapat mengakibatkan kenaikan suhu dalam palka, kerusakan dan
pemanasan mendadak, timbul keringat, noda, kerusakan karena karat dan
dapat pula menimbulkan gas yang beracun dan peledakan hingga
membahayakan kapal.
Cara pemberian ventilasi dalam palka tergantung dari jenis muatan di
dalamnya, dan tergantung pula dari bentuk kapalnya. Misalnya kapal
memuat arang batu gas-gas yang timbul dapat terbakar dan meledak, dan
pemanasan yang mendadak, maka ventilasi itu sangat perlu dalam
hubungannya dengan keamanan ABK-nya.
Ruangan palka yang tidak diberi ventilasi atau ventilasinya kurang baik
akan cepat mengandung udara yang beruap panas, gas dan bau, dimana
semuanya itu dapat menyebabkan kerusakan pada muatannya
Sistim Ventilasi secara umum ada dua : 1. Ventilasi alam 2. Ventilasi
buatan
Kedua cara atau sistim tersebut bertujuan untuk mengadakan aliran udara
yang tetap ( constant air circulation ) di dalam seluruh ruangan palka.
Dan udara panas, kelembaban, uap air, gas dan bau yang dikeluarkan oleh
muatan di dalam palka dikeluarkan dari palka dan diganti dengan udara
bersih dan kering, dengan tujuan agar muatan tetap sejuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar